Headlines News :
Home » » SIFAT-SIFAT/ KARAKTER KEPEMIMPINAN KRISTEN

SIFAT-SIFAT/ KARAKTER KEPEMIMPINAN KRISTEN

Written By matius sobolim on Rabu, 05 Juni 2013 | 04.32



 SIFAT-SIFAT/ KARAKTER KEPEMIMPINAN KRISTEN

Matius Sobolim  


Materi  Perkuliahan Program Pascahsarjan Sekolah Tinggi Alkitab Nusantara Malang

Dosen pengampu Dr. Yakob Tomatala, D.Miss.



I. PENDAHULUAN
Tulisan ini mencoba memberi pengertian Alkitabiah, bagaimana orang Kristen dan gereja dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan dengan pemimpin Kristen dan bagaimana seharusnya menjadi pemimpin Kristen. Sudah diketahui, bahwa setiap orang dilahirkan di dunia ini melihat fenomena yang ada dan sedang terjadi, bahwa banyak orang yang ingin menjadi pemimpin-pemimpin dunia. Ini tidak dapat disangkal. Hal serupa juga terjadi di dalam gereja-gereja. Pertanyaannya apakah mereka sukses ? Sukses, ya ! Tapi jika didalami dan dicoba mengkaji kesuksesan yang pemimpin miliki itu, apakah itu semua terjadi dalam perspektif duniawi atau perspektif kepemimpinan Kristen. Itu pasti membawa pemahaman yang kontroversial dan berbeda penilaiannya bagi setiap orang Kristen, yang walaupun dirinya ada di dunia ini. Seorang pemimpin Kristen tidaklah sama dengan seorang pemimpin masyarakat dalam suatu negara. Cara kerjanya pasti berbeda dan pekerjaanyapun berbeda[1].
Dalam tulisan ini akan lebih banyak suatu pendekatan yang Alkitabiah  dan tempatnya pemimpin dalam perspektif kepemimpinan Kristen, yang menjadi titik berangkat menemukan pemimpin yang berhasil (suksesi kepemimpinan).[2] Untuk menjadi seorang pemimpin Kristen/ Gereja. Alkitab mengajarkan bahwa seseorang tidak cukup kalau ia sudah percaya kepada Yesus. Banyak persyaratan bagi seseorang yang ingin menjadi dan memiliki pekerjaan yang indah ini.  
 
Yakob Tomatala[3], “menyebutkannya kepemimpinan terasa semakin penting, secara khusus tatkala orang semakin gencar membicarakan pokok seputar “pentingnya kepemimpinan” sebagai penentu kesuksesan kerja.
Kepemimpinan memegang peranan penting dan sangat menentukan maju mundurnya suatu organisasi atau ruang lingkup kepercayaan yang diberikan terhadapa seorang pemimpin.
Di mana ada kehidupan, organisasi, kelompok, komunitas, keluarga, gereja, perusahaan, negara, dan lain sebagainya, di situ kepemimpinan dibutuhkan untuk menata mekanisme kehidupan bersama yang didukung oleh proses harmonisasi dalam kehidupan ruang lingkup komunitas tersebut, dari gejala serta kebutuhan ketergantungan sesama yang ada dalam komunitas yang mempunyai struktur sosial, identifikasi jati diri identitas, hasrat untuk mempertahankan kesatuan kehidupan bersama dalam dinamika kehidupan yang ada dan pengorganisasian kehidupan dari komunitas tersebut. Keberhasilan dan keuletan, penuh inspirasi dan motivasi untuk hidup lebih kreatif dan produktif menghantar seorang pemimpin akan berhasil. Artinya pemimpin yang demikian akan terhisab kepada tujuan suatu komunitas/ organisasi ataupun lembaga yang ada itu berhasil guna dan berdaya guna.
Itulah sebabnya power yang dimiliki seseorang yang mendapat kepercayaan, selalu fokus kepada tiga hal penting:[4]
1.      Pemimpin memiliki  tempat yang khusus dalam kepemimpinan
2.      Pemimpinlah yang bertanggungjawab menentukan keberhasilan  kepemimpinan
3.      Pemimpin bertanggungjawab membawa kemaslahatan  atas orang yang dipimpin
Pemimpin Kristen bukanlah orang-orang yang dipilih atas dasar kemampuan pribadinya, atau kekayaannya, atau pemaksaan suatu keadaan dalam ruang lingkup yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu oleh suatu keinginan. Pemimpin Kristen bukanlah seorang penguasa tunggal yang memaksa orang-orang lain dalam jemaat untuk mengikuti keputusannya di atas dasar kepentingan pribadinya. Tetapi memimpin dengan baik, melayani dan memelihara, serta menjagai jemaat dan memberikan dirinya sendiri untuk pelayanan. Pemimpin Kristen adalah tugas pelayanan dan bukan penguasa atau jabatan. Kunci pemimpin sejati sebagaimana Kristus, adalah dengan menjadikan dirinya sendiri menjadi teladan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Kepemimpinan Yesus Kristus  yang memimpin dari hati, yang berlandaskan kasih dan dengan kekuatan, kebenaran dan kebaikan, menjadi pola kepemimpinan untuk menjadi penerima mandat, panggilan dan menjadi pemimpin yang unggul, kompetitif di semua aspek kehidupan yang tidak dibatasi oleh ruang maupun waktu bagi hormat dan kemuliaanNya.[5] Kepemimpinan Kristen bukan suatu kekuasaan yang mengatur seperti kekuasaan pimpinan di luar gereja (=dunia), tetapi adalah suatu kepemimpinan rohani, Kis. 20: 17, 28; I Tim. 5: 17; Ibr. 13; 17. Pemimpin Kristen bukanlah seorang yang melaksanakan keputusan-keputusan manusia, berdasarkan suara terbanyak dalam suatu pertemuan. Atau juga yang sering di adopsi dalam kancah berpolitik untuk suatu kepentingan yang sifatnya temporer, yang menyebutkan “vox populi-vox dei”[6] suara rakyat adalah suara Tuhan.
Upaya mencari dan menemukan kepemimpinan Kristen yang ideal dalam konteks gereja dan pelayanan yang bertumbuh dan dewasa, tentu saja dimulai dari memahami adanya unsur-unsur  kepemimpinan tradisional yang ditunjang sikap terbuka akan konteks sosio-cultural yang ada dalam kehadiran pemimpin Kristen.  Kehidupan seorang pemimpin Kristen yang sejati harus mencerminkan kehidupan Kristus, oleh karena dia menjadi seorang pemimpin atas pilihan dan panggilan Kristus dan juga untuk menjamin keberhasilannya sebagai seorang pemimpin.[7] Penemuan Format kepemimpinan Kristen/ gereja akan lebih pasti dan jelas dengan adanya pemahaman akan dunia dan dasar kepemimpinan Alkitabiah guna membangun landasan mengembangkan suatu format kepemimpinan Kristen yang relevan.[8] Untuk itulah dasar panggilan memimpin, menjadi suatu komitmen untuk membawa kemajuan integritas pemimpin yang memahami kepemimpinan Kristen dengan baik dengan pendekatan inkarnatif Kristus. Pemimpin Kristen adalah seorang yang menjadi pemimpin dari antara sekian banyak orang Kristen, dengan tujuan untuk mempermuliakan nama Tuhan di dunia ini, baik melalui kesaksin hidup sehari-hari maupun dengan persekutuan.
II. PENGERTIAN DAN LANDASAN TEOLOGIS ALKITABIAH
A.    Pengertian Umum.
Dari judul di atas ada tiga kata yang harus dimengerti untuk menemukan pemahaman,  memampukan manusia menjadi pemimpin yang berhasil dengan perspektif Kristen yakni:
Pemimpin, secara umum diartikan, adalah sebagai orang yang memimpin.[9] Yang dalam hubungannya untuk keberadaan suatu komunitas disebut pemerintah, yaitu suatu kuasa tertinggi  untuk mengelola, mengurus, dan mengembangkan serta menguasai wilayah atau kawasan ruang lingkup tertentu.
Sukses, itu berarti berhasil dalam mencapai tujuan dengan pola kepemimpinan yang menggabungkan karakter dengan strategi. Sehingga  hasil sesuatu yang diperoleh nilainya sangat tinggi yang disebut beruntung.[10]  
Kepemimpinan Kristen yaitu tidak menjebakkan dirinya pada roh sekularisasi dalam memimpin, yaitu seorang yang dipenuhi Roh Kudus, yang berjalan dalam iman dan menyebabkan orang lain menyerahkan dirinya kepada Kristus dan bertindak dalam kuasaNya, Ef. 5: 18. I Kor. 2: 1-5, Titus 1: 5. Atau lebih kepada essensinya, yakni seorang yang memiliki kerinduan besar untuk membantu penggenapan Amanat Agung dalam generasi sekarang serta memimpin orang lain dengan tujuan yang sama, Kol. 1: 25.[11]
B.      Pengertian filosofis     
Pengertian filosofis di sini dimaksudkan, untuk memperlengkapi suatu pemaknaan yang lebih tertuju kepada perenungan. Karena hikmat marifat Surgawi dengan mana Tuhan memberikan manusia berpikir mengikuti pola pikirnya Descartes (=έγώ ήιμἰ, aku berpikir maka aku ada), pengertian di atas dapat didefinisikan sebagai “kepemimpinan ialah suatu proses terencana yang dinamis melalui suatu periode waktu dalam situasi, yang di dalamnya pemimpin menggunakan perilaku kepemimpinan yang khusus (behavior  dan style serta performance yang akan terlihat), dan sarana atau prasarana atau sumber-sumber kepemimpinan untuk memimpin bawahan guna melaksanakan tugas atau pekerjaan ke arah tujuan yang menguntungkan bagi pemimpin dan bawahan serta lingkungan sosial di mana mereka ada/ hidup”.[12]  Jika pernyataan ini dimasukkan kepada pemimpin yang sukses, itu berarti ada kerinduan, siap dan mau memuliakan Tuhan, supaya hidup beruntung dan berbahagia yang dalam teologinya berarti “diberkati”.
  
C.    Pengertian Teologis Alkitabiah
Pemimpin yang sukses dalam perspektif Kristen adalah yang memahami kepada dirinya diberikan Tuhan karunia memimpin. TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia.[13] Menjadi kepala dalam teks asli tertulis “lerosy” לראש  yang diterjemahkan dalam Holy Bible dengan the head sepertinya kurang cocok, sebab dapat mengkonotasikan, mengandung arti bagian organ dari tubuh saja yang posisinya di bagian atas. Sedangkan padanan katanya akan tetap naikלמעלה  רק  והיית “ wehayyita raq lemelah, dalam Holy Bible diterjemahkan, you will always be at the top, yang mana berarti proses dinamis terencana terjadi. Pemahaman teologis exegetis memaknai bahwa Tuhan memberi karunia memimpin menjadi seorang pemimpin itu.  Ini dapat dipahami sebagai ucapan Yesus sendiri sebagai gembala, “πρόβατον” (=probaton). Itu berarti pemimpin yang menggembalakan adalah ciri khas keteladanan yang dari pribadiNya menjadi contoh dan panutan yang diwariskan. Gembala mengarahkan domba-dombanya untuk membawa ke tujuan, tempat padang rumput yang hijau.  Gembala mengawasi dan memeriksa keadaan sekitar, untuk dapat mengantisipasi tantangan akan binatang buas dan tersesatnya domba.  Itu artinya sama saja dengan istilah dalam bahasa inggris “herald” dan teks Yunani koine “κιβερνεσις” yang maksudnya mengarahkan. Ibarat mercu suar di lautan menjadi pengarah bagi kapal yang sedang melintas, yang mana ada bahaya karang yang dapat membuat kandas.
Jadi secara praktis dan Alkitabiah, judul “Pemimpin yang sukses dari perspektif Kristen” adalah orang yang mempunyai karunia untuk memimpin yang berdasarkan pelayanan dan penggembalaan. Kepemimpinan gerejawi wajar melihat dirinya dalam citra atau “image” gembala. Dalam istilah lain pendeta disebut “pastor”. Yang sebenarnya, berarti gembala dan erat hubungannya dengan “pasture” atau padang rumput, ke tempat mana domba-domba dibawanya untuk merumput sampai kenyang. Sukses dan diberkati.[14]
Kepemimpinan ada bukan membuat pemimpin menjadi penguasa, namun yang lebih jelas pengertiannya, dia haruslah sebagai pemimpin yang melayani. Dari pengertian tersebut di atas maka kita mendapatkan pemahaman, bahwasanya kepemimpinan para petugas gereja, terlebih para pendeta perlu sekali menggunakan istilah gembala tersebut untuk sukses membawa domba-dombanya. Karena Yesus sudah menjadikan dirinya sebagai Gembala yang terbaik dan mewariskannya kepada setiap pemimpin Kristen. Yang kesemuanya ini meminta suatu pengenalan diri, pengenalan jabatan dan peraturan-peraturan, pengenalan warga dan kehidupan masyarakat.
III. SYARAT-SYARAT PEMIMPIN KRISTEN
“Orang yang dapat menempatkan dirinya pada situasi orang lain, yang dapat memahami jalan pikiran orang lain, orang tersebut tidak pernah perlu kuatir tentang nasib hari depannya”, begitulah ucapan Owen D. Young yang dikutip oleh Yakob Tomatala.[15] Ini begitu penting, karena di dalamnya hikmat pemberian Allah memenangkan hubungan dengan orang lain sebagai suatu landasan yang menjadi dasar bagi kesuksesan kerja. Tidaklah terlalu berlebihan, apa bila Firman Allah sudah mengatakanNya sebagai sumber inspirasi kehidupan pemimpin membangun kepemimpinannya dengan dasar Yeremia 29: 11: “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”. 
Ada tiga hal penting dalam membedakan satu dengan lainnya, untuk mengangkat judul di atas sebagai suatu ciri khas kepemimpinan, mengingat pemimpin yang sukses itu adalah dilihat dari perspektif  Kristen yaitu:
1.      Pemimpin sebagai Gembala yang melayani dalam komunitas dan organisasi gereja
2.      Pemimpin sebagai pengerja pelayanan masyarakat secara umum, LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), dan lembaga lainnya.                                                                                                          
3.      Pemimpin yang  ditempatkan dan bekerja dalam pemerintahan suatu Negara  
Ke-tiganya adalah jenis dan menjadi model di mana seorang pemimpin melakukan pengaruh bagi orang yang dipimpin. Juga dari model pemimpin ini memiliki posisi yang sama dan memiliki 6 (enam) kriteria yang harus pemimpin miliki yaitu: “kuasa kepemimpinan dan pemimpin secara organisasi lingkup kuasa kepemimpinan yang meliputi:[16]
1.      Kuasa keahlian atau expert power (karena usaha pribadi)
2.      Kuasa penghargaan social atau referent Power (pengakuan karena pembuktian diri)
3.      Kuasa pemberian imbalan atau reward power (kekuatan member imbalan)
4.      Kuasa bertindak tegas atau coercive power (karena kewibawaan)
5.      Kuasa resmi atau legitimate power (karena dipilih, diangkat, diwariskan, dicipta atau dirampas)
6.      Kuasa rohani atau spiritual power (hikmad yang dibutuhkan untuk memimpin)
Dengan menguasai ke-enam kriteria yang dimiliki seorang pemimpin di sini, maka jelaslah lingkup studi kepemimpinan itu mencakup hal berikut yang terdiri dari: [17]         
         
1. Elemen dasar kepemimpinan:
    - Pemimpin (competent)
                                                                - Orang yang dipimpin (commited)
                                                                - Situasi kepemimpinan (condusive)
            2. Doktrin kepemimpinan:          - Perlengkapan dasar (pengelolaan-gaya dan
      karakter)
                                                                - Nilai-nilai dasar (teologis dan philosofis)
            3. Tugas dasar kepemimpinan :
   - esensi
   - Sifat
   - unsur ekonomi
   - Lingkungan kerja
Dengan memperhatikan bagian dari kuasa kepemimpinan sebagai syarat untuk menjadi pemimpin, maka “kuasa kepemimpinan” itu dapat didefinisikan; kemampuan seutuhnya untuk menyebabkan sesuatu terjadi. Tentu saja ini memiliki sisi personal, sosial dan organisasi. Kuasa disini terlihat sebagai sesuatu ingin mendominasi:[18]
a.       Personal; berkaitan erat dengan kepribadian seseorang yang berkembang secara utuh  dalam lingkup kehidupannya
b.      Sosial; menjelaskan tentang kedudukan dan pengaruh seseorang dalam lingkup masyarakat dimana ia berada.
Bisa ada karena diwariskan, diberikan, dibuktikan, yang terlihat pada pengakuan terhadap seseorang dalam masyarakat.
Memberikan pengaruh (daya) tempat (posisi) kepada seseorang dalam masyarakat untuk memainkan suatu peran (fungsi).
c.       Organisasi; adanya tugas, kewenangan, hak, kewajiban, tanggungjawab dan pertanggungjawaban kepemimpinan pada seseorang individu, yang olehnya ia dapat berperan sebagai pemimpin dalam suatu organisasi”.
Kerinduan rindu mempengaruhi, siap mempenagaruhi dan mau mempengaruhi sebagai content dari kuasa kepemimpinan, membuat seorang pemimpin dimampukan untuk seutuhnya menyebabkan sesuatu itu terjadi.



III.1.     SIFAT-SIFAT/ KARAKTER KEPEMIMPINAN KRISTEN
Sebagaimana dijelaskan pada bagian pendahuluan, bahwa seorang pemimpin jemaat tidak sama dengan pemimpin di luar jemaat, maka sudah jelas pemimpin jemaat dipilih untuk melayani Tuhan dan pekerjaannya di tengah-tengah jemaat. Dengan kata lain pemimpin Kristen dipanggil untuk pelayanan dan pembangunan tubuh Kristus, Ef. 4: 13 Sangat jelas bahwa kedudukan seorang pemimpin dalam organisasi gereja adalah berdasarkan panggilan Tuhan. Seorang pemimpin Kristen dalam melaksanakan fungsinya ada keharusan meneladani kehidupan Kristus, Sang Gambala Agung.  
Sifat Kristus yang harus diteladani oleh para pemimpin Kristen itu ialah menyangkut dan tertuju :
1.      Kerendahan hati, Mat. 11: 29[19]     
Yesus menasihati agar pemimpin rendah hati seperti Dia, supaya jiwa mendapat ketenagan. Yesus Kristus, Anak Allah itu telah datang ke dunia dengan kerendahan hati, agar kita sebenarnya yang tidak layak lagi di hadapan Tuhan, dilayakkan, sehingga kita dapat menghampiriAllah Yang Maha Agung. Disinilah perlu seorang pemimpin berhikmah dalam mempengaruhi jemaat untuk tidak membedakan, jemaat yang miskin, jemaat yang bodoh, maupun jemaat yang rendah kedudukannya.
2.       Kelemahlembutan, Mat. 11: 29
Yesus Kristus dalam masa pelayananNya sebagai manusia, selalu bersikap lemah lembut terhadap semua orang. Kita meneladaninya dari kesaksian Alkitab:
i.                    Yesus lemah lembut terhadap seorang perempuan berdosa, Luk 7: 37-39, 44.
ii.                  Yesus begitu lemah lembutnya terhadap Petrus, sebelum Petrus menyangkalNya, maupun sesudah Petrus menyangkalinya, Luk 22: 31; Yoh 21: 15
iii.                Yesus juga lemah lembut kepada Yudas, walaupun Yesus sendiri mengetahui bahwa Yudas akan menghianatiNya, Mat. 26: 50; Yoh 13: 21
iv.                Yesus lemah lembut terhadap orang-orang yang menyalibkannya. Luk. 23: 34
3.      Seorang yang menginginkan  pekerjaan yang indah. 1 Tim. 3: 1-7; Tit 1: 6-9
Artinya seseorang yang terpanggil untuk melakukan pekerjaan pelayanan yang indah dalam pandangan Tuhan, bukan menurut pandangan dunia. Pekerjaan memimpin tersebut adalah dalam rangka memuliakan Allah. Untuk menerapkannya, seorang yang memimpin harus yakin akan panggilan Tuhan dalam melayaniNya sebagai pemimpin di dalam gereja. Dia sesungguhnya harus yakin bahwa pekerjaan yang ia lakukan adalah merupakan    pekerjaan yang paling indah di dunia ini. Melakukan pekerjaan yang paling indah tersebut hanya untuk mempermuliakan nama Tuhan atau tidak mencari pujian bagi diri sendiri.
4.      Seorang yang tidak bercacat.
Syaratnya berarti memiliki hidup yang baik, yang berkenan di hadapan Allah dan manusia. Kehidupan rohaninya luar dan dalam memancarkan terang Kristus yang bisa dilihat dan disaksikan orang lain, terutama oleh jemaat yang digembalakan. Jadi bukanlah dia seorang yang membenci saudaranya. Dan dari kehadirannya sebagai pemimpin di tempat orang lain membawa berkat.
5.      Seorang yang menjadi suami dari satu isteri dan isteri dari satu suami
Jika pemimpin adalah laki-laki hanyalah memiliki satu isteri dan sebaliknya jika ia seorang perempuan haruslah juga memiliki satu suami. Yang lain tidak. Jika ia seorang homo atau lesbian, Alkitab memberitahukan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, Kej. : 27. [20] Jadi mereka tidak bisa jadi pemimpin untuk konteks bergereja. Hal ini juga memungkinkan bagi seorang akan jadi pemimpin, apakah ia sudah pernah menikah sebelum menjadi suami atau isteri saat sekarang.
6.      Seorang yang dapat menahan diri
Hanya seorang yang mampu mengendalikan diri akan mampu mengambil sikap yang benar dan bijaksana, tidak tergesa-gesa, tidak sembrono, tidak ceroboh mengambil keputusan dan tidak menjadi pemarah. Instropeksi diri untuk tidak cepat melepaskan kemarahan. Sejalan dengan itu, bagaimana sikap untuk menghadapi tantangan yang berat akan menjadi hal biasa.
7.      Seorang yang sopan, 1 Kor. 14: 40[21] 
Menjadi seorang yang mengerti cara-cara pergaulan yang berlaku.
Sejauh tidak melanggar Firman Allah, bersikap menghargai dan menghormati orang lain, tahu menempatkan diri dan tidak menjadi batusandungan dikarenakan tingkah lakunya yang tidak layak, menjadi indicator yang tepat. Menghargai senioritas dan orang yang lebih tua, dan muda maupun anak-anak dalam mensikapi pergaulannya setiap hari. Menempatkan diri pada orang lain, jika suaananya memerlukan.
8.      Seorang yang suka member tumpangan
Seorang pemimpin bersedia dengan rela hati, memberikan rumahnya untuk tempat menginap bagi saudara seiman/ hamba-hamba TUhan yang memerlukan penginapan, karena perjalanan atau pelayanan. Selain itu juga bersedia menampung atau member tumpangan bagi setiap orang yang memerlukan penginapan karena hal-hal yang sama. Artinya sikap terhadap orang lain yang kemalaman  karena perjalanan, yang meminta tolongan menginap haruslah tidak menolaknya.
9.      Seorang yang cakap mengajar
Artinya dia adalah seorang yang mempunyai kemampuan mengajar, menasihati, memberikan kesaksian tentang Injil, sehingga dengan ajaran dan nasihat serta kesaksiannya, orang lain dikuatkan dalam iman, memperoleh penghiburan dan memperoleh keyakinan.
10.  Orang yang bukan peminum atau pemabuk
Dia adalah orang yang tidak mempunyai kesukaan atau kebiasaan minum minuman keras, bir, anggur dan sebagainya yang bisa memabukkan, ataupun kebiasaan nuntuk meminum minuman dengan  tujuan kesenangan daging. Dan seorang yang menghentikannya, karena itu bisa menjadi belenggu yang membawa kepada dosa.
11.  Seorang yang bukan pemarah melainkan seorang peramah
Kebiasaan marah adalah menjadi kejelekan. Marah berarti mengikuti hawa nafsu. Seorang yang gampang marah karena perkara-perkara kecil maupun besar, berdampak buruk bagi karakter pemimpin. Hal ini tidak berarti seorang pemimpin tidak bisa marah. Seorang itu bisa marah untuk membangun suatu kebaikan dan bukan mengulangi timbulnya dosa-dosa yang baru.
12.  Seorang pendamai
Orang yang suka dan berbeban untuk memperdamaikan perselisihan haruslan di dalam kasih. Kalau itu berhubungan dengan diri sendiri segeralah memaafkan. Bila tidak menyangkut dengan diri sendiri atau berhubungan dengan orang lain, ia berbeban untuk menyelesaikan dengan baik untuk menjadikan mereka saling mengasihi. Ini memnjadi bagian hidup seorang pemimpin dengan hati, berlandaskan kasih dan dengan kuasa, kekuatan dan kebaikan tujuan bagi kemuliaan Allah akan menjadi nyata.[22]Itulah menjadi berkat pemimpin yang memiliki integritas.

III. 2. KEMBANGKAN POTENSI  KARUNIA ALLAH
Apakah para pemimpin memang dilahirkan sebagai pemimpin atau mereka dibentuk ?  Pertanyaan ini gampang, tetapi sulit untuk menemukan jawabannya. Memang benar bahwa ada orang yang kelihatannya dilahirkan dengan segudang kemampuan dan karunia untuk memimpin. Tetapi juga benar bahwa beberapa orang di antara pemimpin terbesar di dalam Kerajaan Allah adalah mereka yang oleh dunia dianggap tidak memiliki kualifikasi sebagai pemimpin. Apa yang diperlukan oleh orang-orang seperti ini adalah pengakuan orang lain atas potensi yang mereka miliki dan membantu mereka mengembangkan potensi tersebut. Seringkali mereka akhirnya menjadi orang yang paling berharga dan efektif  dalam kepemimpinan. Untuk itu kenalilah potensi yang dimiliki lalu kembangkan sebagai seorang yang tidak saja terlahir sebagai pemimpin tetapi dibentuk menjadi pemimpin.  Tidak ada orang yang memulai pada garis akhir. Mengembangkan potensi yang ada berarti:
i.                    Pengembangan potensi pribadi merupakan pekerjaan utama setiap orang.
Setiap orng memiliki potensi, tetapi dirinya  tidak akan pernah melihat potensi tersebut terwujud sebelum dirinya beriman kepada Allah dan yakin bahwa ia dapat melakukan apa saja yang Allah katakana bisa dilakukan di dalam firmanNya.
ii.                  Jika tidak seorangpun di dunia ini percaya kepada anda, Allah tetap mempercayai dirimu dengan keyakinan anada sanggup melakukan apa saja yang Allah ingin kita lakukan.
iii.                Potensi tidak bisa terwujud tanpa bentuk. Mengetahui bentuk potensi berarti mengembangkan potensi dengan benar, harus membuat suatu rencana, memiliki tujuan dan mengambil tindakan. Itulah karunia yang Tuhan berikan. Ada orang yang diurapi mengerjakan segala hal yang harus diselesaikan. Allah tidak akan membiarkan dirinya menghabiskan hidup dengan melakukan sesuatu yang tidak dirinya sukai. 
iv.                Pemimpin yang cerdas tahu apa yang bisa ia lakukan dan apa yang tidak bisa ia lakukan dan ia memiliki, orang-orang sekitarnya yang bisa mengerjakan dengan baik  apa yang tidak bisa dia kerjakan.
v.                  Kembangkan benih karunia yang dimiliki, yang oleh Tuhan sudah berikan dan jangan ditidurkan begitu saja. Pentingnya pengembangan potensi  sebagaimana Alkitab mengatakan, 1 Ptr. 4: 10; “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah”. Sangat tepat bahwa pemimpin diminta untuk mengembangkan dan menggunakan karunia-karunia setiap orang untuk saling memberkati. Itulah tujuan Allah memberikan karunia memimpin, yaitu agar kita bisa menjadi berkat bagi orang lain.[23]
vi.                Dengan menyerahkan waktu dan tenaga untuk mengembangkan apa yang telah Allah taruh di dalam hidup, seseorang akan menikmati sukacita.[24] Pada Gal. 6: 9, Tuhan sudah janjikan demikian; “ Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah”.

Potensi adalah harta yang tak ternilai seperti emas. Masing-masing manusia memiliki emas yang terpendam di dalam hidupnya, tetapi dirinya harus menggali untuk mendapatkannya.

III. 3. SIAPA YANG ALLAH PAKAI MENJADI PEMIMPIN ?
Dari apa yang diuraikan di atas sudah jelas yang Allah pakai menjadi pemimpin, diberkati untuk menjadi berkat adalah orang yang berkenan di hati Allah, yang antara lain[25] :
i.                    Allah memakai orang yang setia dengan perkara-perkara kecil. Artinya banyak orang tidak suka melakukan perkara-perkara kecil. Mereka langsung memulai dengan perkara-perkara besar.Kalau seseorang tidak setia terhadap perkara-perkara kecil bagaimana mungkin kepadanya diberikan perkara-perkara besar. Perkara kecil mengandung konsekuensi tanggungjawabnya kecil dan pertanggungjawanannya juga adalah kecil. Mulailah dari sini, ketimbang perkara-perkara besar tetapi tidak dapat mempertanggungjawabkannya. Prinsipnya, karena Tuhan telah memberi karunia, bahwa pribadiku dapat melakukan, siap melakukan apa yang menurut orang lain saya tidak dapat lakukan.
ii.                  Allah memakai orang yang akan memberikan segala kemuliaan kepadaNya[26], I Kor. 1: 29. Mengapa Allah memilih perkara-perkara dan orang-orang yang Ia kehendaki. Karena Allah tidak menginginkan seorang pemimpin yang memegahkan dirinya di hadapan manusia atau Allah. Orang-orang yang mengenal secara dekat tidak berpikir bahwa pemimpin adalah orang-orang penting, hanya orang yang tidak mengenal pemimpinlah yang berpikir bahwa pemimpin adalah orang-orang yang penting.
iii.                Allah memakai orang yang mau menghasilkan buah bagi Dia. Jika kita ingin menjadi pemimpin dalam Kerajaan Allah, maka kita harus mau mengijinkan Tuhan berurusan dengan kita, dan untuk itu kita tidak selalu akan merasa nyaman. Sebaliknya, kita justru akan merasa kesepian dan bahkan sakit. Kita tidak akan menyukai semua itu, tetapi kita harus menaruh percaya kepada Allah, Gal. 6: 7.[27]
iv.                Allah memakai orang-orang yang mau menyelesaikan apa yang telah mereka mulai.
v.                  Allah memakai orang-orang yang tetap pada jalur yang sempit, Mat. 7: 13-14[28]. Yeus mengatakan bahwa sangat mudah untuk jatuh ke dalam pencobaan, jatuh dalam dosa, dan binasa. Sangat mudah terjerumus ke dalam arus dunia ini dan terkatung-katung dalam perahu duniawi bersama orang lain. Sangat mudah untuk bersantai dan “mengikuti arus”. Tetapi orang yang melalui jalan yang sempit harus tahan terhadap tekanan. Sehingga dapat menjalani hubungan yang lebih intim lagi dengan Tuhan, dan belajar untuk mengenal Dia lebih dan lebih lagi.
vi.                Allah memakai orang-orang yang mengambil pilihan-pilihan yang bijak, Ul. 30: 19.[29]
vii.              Allah memakai orang-orang yang menjadi teladan yang baik bagi orang lain. Allah sungguh membuat diri seorang menjadi pemimpin, orang lain meneladani hidupnya, Mzm. 119: 6[30]
Pemimpin yang Allah sukai dan kehendaki adalah perlu memiliki pengaruh kepada orang lain. Orang yang layak menjadi pemimpin perlu mengajari orang yang dipimpin, bahwa mereka juga bisa memberikan pengaruh positip bagi dunia ini. Perlu mengajari mereka bahwa mereka memiliki panggilan Allah yang harus dipenuhi. Tuhan menuntut orang yang Dia kehendaki memimpin menjadi orang yang berguna, dan itu tentunya semua orang bisa menjadi berguna sesuai karunia Allah yang dimilikinya.[31]
III. 4. TUGAS PEMIMPIN KRISTEN
Sekali lagi, seorang pemimpin Kristen adalah seorang yang dipanggil Allah untuk tugas khusus. Tugas-tugas itu sudah ditetapkan Allah sendiri dalam FirmanNya. Dan seorang pemimpin Kristen yang baik akan melaksanakan tugas-tugas tersebut dengan penuh rasa tanggungjawab kepada Allah. Dengan demikian terlihatlah tugasnya sebagai berikut:
i.                    Menjaga hubungan pribadi dengan Allah yang tetap baik, Kis. 20: 28. Allah meminta dua hal penting dari setiap pemimpin Kristen (=dan tentunya juga bagi setiap orang percaya yang rindu, siap dan mau memimpin):
a.       Dipenuhi oleh Roh Kudus, Ef. 5: 18, artinya dipimpin dan dikuasai oleh Roh Kudus. Dan dalam Gal. 5: 16; hiduplah oleh Roh dan menjauhi keinginan daging. II Tim. 2: 19-22; seorang pemimpin dipersiapakan untuk tugas yang mulia.
b.      Bertumbuh dalam pengetahuan tentang Firman Tuhan, dengan jalan mempelajari dan menerapkannya, II Tim 2: 15, artinya; seorang pekerja yang tidak malu, yang berterus terang memberitakan perkataan kebenaran. Bertekun dalam belajar dan mengajar Firman Tuhan sangat menentukannya, I Tim. 4: 16 dan di Ef. 4: 22-29, hasil dari mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan adalah menanggalkan manusia lama dan kelakuan-kelakuannya.
ii.                  Melayani Jemaat, Kis. 20: 28
Allah telah mempercayakan penggembalaan jemaatNya yang telah ditebus dengan darahNya sendiri. Ini menjadi suatu kepercayaan dan tanggungjawab yang besar. Bukti mengasihi Tuhan Yesus, adalah menggembalakan jemaat Allah dengan penuh rasa tanggungjawab, Yoh. 21: 15-17. Setiap orang dipimpin kepada kesempurnaan dalam Kristus dengan mengajarkan FirmanNya, Kol. 1: 28.
Itu berarti setiap pemimpin adalah memimpin untuk melayani jemaat supaya hidup jemaat semakin diberkati, 1 Ptr. 5: 17-18. Terbentuklah diri pemimpin tidak sembrono, karena itu adalah menjadi tugas panggilan Tuhan, karunia Tuhan untuk dikerjakan menjadi tugas dan bukan jabatan. Terlihat suatu tujuan bahwa melayani jemaat tidak dengan paksa. Melayani jemaat adalah dengan sukarela. Melayani jemaat bukan untuk mencari kepentingan diri sendiri atau keuntungan. Melayani jemaat bukan dengan memerintah, tetapi dengan menjadi teladan. Memimpin jemaat dengan baik, berkhotbah dan mengajar. Pemimpin Kristen seperti ini patut dihormati, 1 Tim. 5: 17-18.
iii.                Memperhatikan dan melindungi jemaat, Kis. 20: 29-31.
Pemimpin Kristen berkewajiban melindungi jemaat, sama seperti Yesus sebagai Gembala yang melindungi domba-dombaNya. Karena setan dengan ajaran sesatnya berusaha untuk masuk ke dalam komunitas orang percaya bahkan masuk ke dalam gereja. Iblis berusaha mencari orang yang dapat disesatkan, 1 Ptr. 5: 8. Pengajar-pengajar sesat mencari orang-orang yang masih lemah imannya, Ef. 4: 14.
Menjaga jemaat melalui memelihara persekutuan. Dengan menolak pengajar sesat menjadi kewajiban seorang pemimpin, 1 Yoh. 4: 1-3.[32] Mendisplinkan orang-orang yang tidak mau bertobat agar Tubuh Kristus dalam jemaat dapat memberikan kesaksian yang benar, Mat. 18: 15-17.
Cara Iblis menyerang ada dua arah:
a.       Dari luar; dengan jalan menyusupkan orang-orang yang pura-pura percaya masuk ke dalam persekutuan, Mat. 13: 24-25; 2 Kor. 11: 12-15
b.      Dari dalam; dengan jalan mempengaruhi orang-orang percaya di dalam jemaat dengan ajaran-ajaran palsu, yang akhirnya membawa perpecahan jemaat, 1 Tim. 6: 3-5; 2 Tim. 2: 16-17.
iv.                Berdoa dan belajar, Kis. 20: 32[33]
a.       Berdoa; pemimpin Kristeb haruslah selalu mempunyai hubungan dengan Tuhan melalui doa, dengan demikian akan memungkinkan untuk tetap dipimpin oleh Roh Kudus, Kis. 6: 4; 1 Tes. 5: 17-20; Ef. 5: 18; Yak. 4: 8.
b.      Belajar; pemimpin harus bertumbuh di dalam Firman Tuhan, karena Firman Tuhan akan membuatnya tetap murni dan menjadi semakin dewasa, 1 Tim. 4: 13; 2 Tim. 2: 15; 2 Tim. 3: 16-17.
v.                  Memuliakan Tuhan Yesus dalam pelayanan, Kis. 20: 33, 35.
Pemimpin Kristen haruslah menjadi contoh bagi jemaat dalam tujuan hidup pelayanannya. Bagi seaorang pemimpin Kristen hanya ada satu tujuan atau “goal” yaitu memuliakan Tuhan Yesus Kristus.[34] Seorang pemimpin Kristen harus menjaga kemurnian tujuan pelayanannya, 1 Kor. 10: 31; Flp. 3: 14. Pemimpin Kristen haruslah menjadi contoh dalam hal memberikan dirinya bagi kemuliaan Allah, 1 Ptr. 5: 2[35] Alasannya, karena seorang tidak dapat melayani dua tuan sekaligus, Mat. 6: 24 dan bnd. Rm. 13: 8.
Semua hal yang disebut di atas merupakan bagian yang hampir tidak terpisahkan dari kehidupan seorang pemimpin Kristen, yang berkarakter pola kepemimpinan Yesus, dan berdisplin sebagai bentara dan laskar Kristus, dan berjiwa membawa orang hidupnya bagi orang banyak diberkati. Hal-hal tersebut jugalah yang akan membawa seorang pemimpin pada kekuatan baru dalam Yesus Kristus.
IV. ORANG BIASA DI TANGAN ALLAH YANG MENJADI LUAR BIASA
Maksud dari bagian ini, adalah bagaimana kesaksian Alkitab menceritakan sesuatu yang luar biasa pernah terjadi, dialami pemimpin yang Tuhan kehendaki. Artinya pemimpin yang Tuhan kehendaki mampu mengubah suatu keadaan yang perkaranya kecil dan sebaliknya menjadikan dirinya hebat untuk kehidupan orang banyak. Kita mulai saja dari tokoh perempuan yang sebenarnya mereka itu dalam kultur budaya Semith,[36] adalah orang yang tidak diperhitungkan. Manusia kelas dua sama seperti anak-anak. Ternyata mereka mampu menjadi pemimpin yang dingat dan berpengaruh dalam perjalanan sejarah. Mereka itu adalah; orang-orang yang membuat perubahan, sehingga ada banyak peran kemanusiaan para perempuan sudah membawa dampak perubahan dalam hidup dan perjalanan sejarah. Misalnya kita sebutkan saja, nama:
A.      Pemimpin Perempuan:
a.                            Debora  sebagai hakim (= nabiah, peran nama Debora ini sebagai hakim atau nabiah bagi Israel, kayaknya kurang mengambil peran yang sentral), namun daripadanya semua orang boleh belajar bahwa kemenangan Israel atas orang Kanaan, atau Raja Yabin dan Sisera panglima yang ditakuti umat Tuhan, bisa ditaklukkan yaitu untuk suatu penyelamatan umat Allah akan maksud jahat. Debora menjadi Perempuan, pemimpin yang bangkit sebagai Ibu di Israel. Penduduk pedusunan diam-diam saja di Israel, ya mereka diam-diam, sampai engkau bangkit, Debora, bangkit sebagai ibu di Israel, Hak. 5: 7
b.                           Miryam yang telah memimpin tarian sukacita, konser besar memuliakan Allah ketika Israel keluar dari tanah perbudakan Mesir. Dia menjadi musisi dan pemimpin musik KKR handal bagi pertumbuhan liturgi dan ibadah Gereja sepanjang abad. 
c.                            Ester yang telah menyelamatkan orang Yahudi dari suatu pembantaian massal yang akan dilakukan Haman, Est. 3: 1-15; Hidupnya yang dia bangun di atas dasar hati membuat dia menjadi sosok ”inner beauty”; Miss universe terkemuka di dunia milik ciptaan Tuhan.” Inner character” yang ada padanya akan kecintaannya kepada umat Tuhan telah membawa komunitas hidup yang harmonis dan menuju keselamatan.
d.                           Ruth sebagai teolog dogmatis dengan ajaran tentang penyembahan Allah yang  yang benar, Ruth 1: 16.[37]
e.                            Maria ibu Yesus yang telah membawa pendamaian dan kasihNya melalui Yesus,  untuk membuat dunia tidak binasa serta maut tidak berkuasa atasnya, Yoh. 3: 16; 1 Kor. 15: 55; dan banyak lagi tentunya jika kita meneliti dan merenungkan figur perempuan dan mengambilnya dari Alkitab: Perempuan yang membasuh kaki Yesus, Perempuan Samaria, Marta, Abigail, dan lain sebagainya. Sebagai fakta cikal bakal masa lampau bahwa di dunia ini peran serta dan partisipasi perempuan memimpin di dunia milik Tuhan menjadi masa depan yang sejahtera dan bebas dalam pendamaian dari kasihNya yang tak berubah.
Pemimpin-pemimpin perempuan hebat ini jugalah membuat inspirasi pemberi impian bagi yang ada dan terkenal sekarang, Madam Theresia di Kalkutta, Florence Nightingale (=tokoh keperawatan se dunia), Marianne Katoppo (Tokoh Teolog Femnisme Asia), Margareth Theacher (politikus berhati singa), Cut Nya Dien (pahlawan nasional), Ibu Kartini (tokoh emansipasi wanita) dan lainnya, sungguh banyak lagi tentunya yang perlu disebutkan.  
B.     Pemimpin laki-laki:
Ada banyak dalam Alkitab memberi kesaksian kepemimpinan laki-laki, karena memang taradisi pemulisan Alkitab juga adalah sangat erat dengan tradisi patriarchal. Abraham yang dipanggil Allah sudah menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, Musa yang memimpin perjalanan Exodus, keluarnya Israel dari Tanah Perbudakan di Mesir,  Yusuf yang menjadi manager yang handal dan menjadi Supervisor ketahanan Bulog (Badan Urusan Logistik) pangan dan sang pemimpi yang hebat. Mefiboset yang sangat memperhatikan hak istimewa orang miskin sampai ia bisa makan sehidangan dengan Daud. Daud sebagai pahlawan bangsa Israel yang mengalahkan Goliat dan juga yang mengalahkan musuh-musuh Israel berlaksa-laksa, orang yang pandai berpantun dan memainkan musik dan gembala. Salomo sebagai Raja yang paling berkhikmad sepanjang sejarah dunia, arsitektur Bait Kudus Allah, dan menjadi hakim yang adil dan keputusannya yang benar. Yesus sebagai Raja dan Juruselamat dunia. Rasul Paulus sebagai teolog yang tersohor karena panggilan Tuhan dan pertobatannya dan banyak-banyak lagi.
Semuanya pemimpin tersebut ini jugalah yang menginpirasi munculnya pemimpin-pemimpin hebat di dunia, seperti; Napolion Bonaparty dengan prinsip vini-vidi-visinya, Martin Luther sang Reformator, Martin Luther King, SJ yang melumpuhkan apartheid supaya diskriminasi tidak berkembang dan lenyap. George Washington sang presiden pertama USA, Mahatma Gandhi yang mengembangkan kebebasan dengan anti kekerasan (ahimsa), Commodore Ferry yang membuat terjadinya restorasi Meiji di Jepang (=Jepang terbuka bagi bangsa-bangsa lain), dan tentunya tak terlupakan bagi penghebat keKristenan; Billy Graham yang Protestan, Kardinal Suenen yang katolik, Paul Yonggi Cho yang Penta Kosta, Louis Palau yang Injili, Yakub Nahuay yang babtis, Christ Marantika yang karismatik dan lain-lain.
Orang-orang yang ingin menjadi pemimpin harus memiliki karakter yang baik dalam kehidupan rohaninya, unggul pengetahuannya dan teladan atas karakternya. Artinya mereka, perempuan ataupun laki-laki harus memiliki hubungan pribadi yang dalam, dengan Allah, yang meliputi dan mengutamakan Allah dalam setiap bidang hidupnya. Kita harus berhati-hati bila kita bekerja untuk Tuhan tetapi tidak meluangkan waktu bersama-sama dengan Dia. Ketika perempuan baik laki-laki sampai di puncak kariernya, sebenarnya masih perlu terus melakukan hal-hal yang telah dilakukan pada posisi dia sebelumnya. Jadi jika kita ingin menjadi pemimpin-pemimpin dalam kerajaanNya, maka sepatutnya harus mempertahankan serta menjaga karakter dalam kehidupan rohani. Kita harus menjaga kehidupan doa yang baik dan menjaga hubungan dan persekutuan yang akrab dengan Allah. Dan itu semuanya ditransfer untuk kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan pernikahan dan keluarga, kehidupan dalam ekonomi, perkataan dan integritas.
V. PEMIMPIN KRISTEN YANG SUKSES
Dari apa yang sudah dibeberkan di atas, sudah tentu membawa implikasinya tertuju kepada pemimpin Kristen yang sukses itu bagaimana ! Mengingat kepemimpinan dari seorang pemimpin, dimaksudkan dari pespektif Kristen di sini, akan dijelaskan hal-hal yang berkenaan dengan penyentuhan dari hati, berlandaskan kasih dan dengan kekuatan, kebenaran dan kebaikan, dampak hidup seorang pemimpin menjadi berkualitas, unggul dan kompetitif dalam integritasnya yang tidak tercemar dan tidak tergoyahkan:
1.      Memperbesar visi
2.      Visi adalah suatu penglihatan yang sedang terjadi dan diharapkan pada ekspectasi yang sudah dilihat akan terjadi ke depan menjadi suatu realita atau kenyataan.[38] Di dalam penglihatan yang sedang ada di depan yang diharapkan tersebut (=keinginan suci)[39], sikap menjadi kualitas awal yang tampak dan menentukan tingkat kesuksesan yang diraih. Pada setiap orang pasti terdapat sedikit perbedaan, namun perbedaan yang sedikit itu akan menjadi besar. Perbedaan yang sedikit itu adalah sikap, sedangkan perbedaan yang besar adalah sikap itu positif ataukah negative. Keberhasilan ditentukan sikap pemimpin sendiri, yang menentukan banyak hal dalam hidup anatara laian:
a.       Sikap pemimpin terhadap kehidupan menentukan sikap kehidupan itu sendiri terhadap kita sebagai pemimpin.
b.      Sikap pemimpin terhadap orang lain akan menentukan sikap mereka terhadap pemimpin.
c.       Sikap pemimpin pada awal suatu tugas akan menentukan sukses atau tidaknya suatu pekerjaan tersebut.
d.      Makin tinggi kedudukan orang yang pemimpin temui mdalam komunitas ataupun oraganisasi yang bermutu, makin pula sikapnya meresponi wibawa pemimpin.
Itu berarti belum perbah terlihat ada orang yang bersikap buruk mampu mencapai keberhasilan yang langgeng. Segala sesuatu tidaklah sesulit yang pemimpin lihat; segala sesuatu lebih menguntungkan dari pada yang pemimpin pikirkan, dan jika ada kemungkinan berhasil, maka hal itu akan benar-benar terjadi dan pada saat yang terbaik.
3.      Mengembangkan citra diri yang sehat sebagai misi.
Pada bagian ini,  perlu setiap pemimpin meruntuhkan sikap mental “barely-get-by” untuk menjadi yang terbaik semampunya dia mengangkat citra diri, bukan hanya rata-rata atau atau biasa-biasa.[40] Citra diri yang sehat “ adalah sikap pandainya seorang pemimpin mengatasi kegagalan, karena kegagalan belum tentu kegagalan jika seorang pemimpin tahu kiatnya. Menurut Paul J. Meyer, 90% orang-orang yang merasa gagal sebetulnya belum tentu gagal dan seterusnya, hanya saja mereka cepat menyerah. Citra diri yang sehat adalah kalau seorang pemimpin melihat sejarah dan berpedoman pada sejarah itu sendiri, sebab ternyata orang-orang terkenal yang berhasil adalah mereka yang paling banyak mendapat tekanan dan dikritik tetapi tetap tegar. Pemimpin harus membebaskan diri dari rasa takut, karena justru inilah kunci keberhasilannya.
Takut rasa percaya diri, dan tidak mendapat kesempatan lagi, seorang pemimpin tak perlu bersusah payah menghabiskan waktu dan tenaga hanya untuk mencoba menghindar dari kegagalan, tetapi sebaliknya cobalah untuk mengantisipasinya dengan rasa optimis. Jika pemimpin tidak pernah mencoba, sudah pasti tidak akan pernah berhasil. Tak seorangpun di dunia ini yang tak pernah mengalami kegagalan. Citra diri dan percaya diri segeralah pupuk terus karena dnegan demikian belajar mengantisipasi datangnya sebuah peluang, pemimpin dapat mengira-ngira kehadirannya.
4.      Menemukan kekuatan pikiran, fokus.
Adalah sangat mendukung dan menyemangati apa bila seorang pemimpin membuat prinsip, tujukanlah pikiran-pikran pada hal-hal yang lebih tinggi.  Artinya saatnya diri seorang pemimpin memikirkan pikiran-pikiran positip, terbaik akan mendorong maju menuju kebesaran. Itu berarti jika seorang mau mengubah cara berpikir, Tuhan akan mengubahkan kehidupan pemimpin. Tidak ada yang salah dengan Tuhan. Tuhan mempunyai keyakionan terhadap seorang yang Dia bentuk menjadi pemimpin. Pikiran dan kata-kata pemimpin mempengaruhi masa depan, baik atau buruknya, tetapi Tuhan sudah mengaruniakannya seindah apa yang sedang Dia kehendaki tentang dirinya seorang pemimpin, Yer. 29: 11.[41] Belas kasih Tuhan dan kebaikan Tuhan adalah sesuatu yang dikerjakan akan maju dan berhasil, sebab Tuhanlah yang meberkatiNya. Jika seorang pemimpin mau melakukan apa yang Tuhan mau dan rela melakukannya, dan dengan tegas mengucapkan berkat-berkat atas kehidupan kepada orang banyak yang ada disekitar, Tuhan akan memberikan segala sesuatu yang dipikirkan, untuk dijalani  dalam kehidupan yang berkelimpahan yang Tuhan mau berikan.
5.      Melepaskan masa lalu sebagai program
Tidak membiarkan kepahitan berakar.  Itu adalah racun masa lalu. Akar pahit akan menghasilkan buah yang pahit. Lupakan. Ini menjadi sebuah pilihan, tetapi itu bukan pilihan lain. Jangan pernah menyerah jika kita tahu bahwa apa yang dilakukan itu benar. Yakinlah, pemimpin dapat mengatasi semua rintangan, kritik, karena dia berusaha dan berupaya sekuat kemampuannya, dia akan berhasil. Tak seorangpun dapat membiarkan mempengaruhi dan mengagalkan tujuan, sebab dengan sekuat tenaga kelemahan-kelemahan fisik  dan serta kekurangan, kalau dengan terus-menerus dan gigih berusaha untuk menggapai apa yang dicita-citakan pasti samapai ke tujuan. Memperbaiki serta memperbaharui sikap dengan berpedoman kepada Tuhan dan pengalaman di dalam Tuhan dengan mempelajari pertimbangan akan pengalaman-pengalaman orang lain pasti dapat mengatasi kegagalan. Pantang mundur dan pantang berputus asa sesulit apapun THR (Tantangan-Hambatan-Rintangan) yang ada dihadapi. 7 kata penting dipegang dan dipedomani sebagai suatu program bagi pemimpin yang berhasil :
-          Tujuan yang pasti, Langkah awal yang paling penting untuk mengembangkan sikap gigih. Motivasi yang tinggi akan sangat membantu, mengatasi kesulitan, bnd. 1 Tim 6: 12; 2 Tim. 4: 7
-          Niat, mengembangkan serta memelihara sikap gigih dalam mengejar yang akan diaraih yang dilakukan dengan niat, 1 Kor. 9: 24-25
-          Target, Rencana yang akan dicapai dan tidak hanya disentuh tetapi meraihnya dengan sikap gigih. 2 Tim. 4: 7
-          Pengetahuan yang akurat, mengetahui bahwa pengalaman serta hasil studi  dalam rencana sudah terpola, sehingga keinginan dapat lebih terarah, 1 Kor. 9: 24-25
-          Kerjasama, kegigihan akan terpupuk jika senantiasa menunjukkan sikap simpati, pengertian, dan mau bekerjasama dengan orang-orang lain.
-          Tekad, mengarahkan seluruh rencana untuk bisa terwujud, Yer. 29: 11
-          Kebiasaan, sikap gigih bisa terbentuk karena factor terbiasa. Ini bisa terjadi melalui pengalaman hidup sehari-hari.
Dengan dan melalui serta untuk perspektif Kristen, bagian-bagian kata kunci ini sangat penting untuk mencapai berkat Tuhan. Hidup yang diberkati semakin memberkati. Inilah keberhasilan seorang pemimpin Kristiani.
6.      Menemukan kekuatan melalui kesukaran sebagai strategi.
Tidak ada orang yang akan berhasil meraih cita-citanya hanya dengan berbekal tenaga dan usaha yang biasa-biasa saja. Selaraskan pertumbuhan pribadi sebagai pemimpin dengan visi. Perubahan positip dalam kehidupan seorang pemimpin akan dicapai bila perkembangan kepribadiannya juga baik. Ubahlah sebuah pilihan kecil menjadi satu visi besar. Gantungkanlah cita-cita setinggi langit, karena sukses tak pernah diraih oleh orang-orang yang mudah menyerah pada nasib. Pelajari setiap kemungkinan yang dapat mewujudkan visi. Dan selalulah senantiasa berpedoman  kepadanya, namun juga harus tetap fleksibel terhadap jalan yang akan ditempuh ke sana. Tidak ada orang yang akan berhasil meraih impiannya atau cita-citanya hanya dengan berbekal tenaga dan usaha sendiri. Tanpa adanya orang lain keberhasilan tak akan pernah bisa dicapai. Ini menjadi strategi untuk mencapai sukses. Visi dan pengalaman bersama dengan orang lain akan menimbulkan kreatifitas, yang membantu tercapainya tujuan-tujuan besar, bnd. Luk. 1: 37.
7.      Hidup untuk memberkati, hasil dan tujuan
Seorang pemimpin yang berhasil harus belajar untuk menjadi seorang pemberi, bukan seorang yang selalu diberi. Seorang pemimpin adalah diciptakan Tuhan untuk memberi, karena itu dapat menjadi sebuah pelukan yang menyelamatkan mendatangkan sukacita dan kebahagiaan. Pusat perhatian harus ditujukan pada menjadi suatu berkat. Jika itu tidak berguna, ubahlah menjadi suatu benih yang tentunya tidak mencurigakan berkat adlah suatu pemberian dari keberhasilan. Hidup untuk member adalah menjadi wujud apapun yang diberikan  akan diberikan kemabali. Apa yang pemimpin wujudkan bagi orang-orang lain. Tuhan akan mewujudkannya juga bagimu.
8.      Memilih untuk berbahagia, berhasil (sukses)
Keinginan adalah dasarnya, yang sudah tentu adalah dari hati. Percaya diri adalah intinya, yang bergerak ke luar dari dasar hati dan melakukannya berlandaskan kasih. Rasa percaya diri seoraqng pemimpin memungkin para yang dipimpinnya percaya pada gagasannya. Pemahaman adalah pentingnya. Jikalau pemimpin sudah memahami orang yang ia pimpin, suatu kerjasama dalam ruang lingkup kerjanya akan bersama-sama membangun untuk tujuan keberuntungan untuk dinikmati bersama-sama. Alasan-alasan adalah buktinya. Setiap pemimpin yang mencoba meyakinkan orang lain pasti mempunyai kredibilitas. Aristoteles pernah menjelaskan tiga unsur pokok dalam meyakinkan orang lain untuk tidak saja ada pada alasan-alasan:
1.      Logos, daya tarik terhadap alasan
2.      Pathos, daya tarik terhadap emosi
3.      Ethos, yang mencakup kepercayaan (kredibilitas)
Inilah membedakan seorang pemimpin yang menggunakan memilih untuk berbahagia dengan gaya ini, dengan seorang yang menggunakan kesempatan dalam kesempitan untuk kepentingan pribadinya sendiri.
Terakhir bahwa cinta kasih adalah motivasinya. Jika pemimpin mempunyai suatu pandangan yang bermanfaat bagi oraganisasi dan masyarakat, mampu berkomunikasi untuk mengungkapkannya kepada orang lain, dan mampu memotivasi mereka untuk bertindak berdasarkan pandangan pemimpin tadi, pemimpin bisa meraih sukses. Disebut juga sebagai pemimpin panutan, yaitu orang-orang yang bergabung dengan dirinya pemimpin jauh lebih berguna dari pada orang-orang yang hanya mengekor dibelakang pemimpin. Pemimpin seperti ini selalu mengambil kemampuan yang ia miliki, dan memberikannya kepada yang mengikutinya atau sebagai estafet kepemimpinan yang berhasil.
VI. KESIMPULAN
Kepemimpinan Kristen merupakan bagian dari pelayanan dalam kehidupan manusia secara umum dan sifatnya universal, untuk menjadikan seorang pemimpin yang disebut gembala sebagai pelayan yang memberikan berkat, baca Mzm. 23: 1-6. Sehingga pemimpin Kristen itu adalah gembala yang mengikuti pola kepemimpinan Yesus. Kristen yang artinya sebagai pengikut Kristus, membuat seorang pemimpin harus menjadi orang yang menjadi teladan, seperti Yesus sebagai pemimpin yang diteladani para Rasul, orang percaya pada jamanNya dan suksesNya pemimpin atau orang-orang Kristen hingga saat ini.
Pemimpin Kristen terjadi dalam panggilan Allah, sebagai karunia Allah yang dijalankan untuk mempengaruhi banyak orang dan hidupnya masing-masing sebagai pemimpin ataupun orang yang dipimpin menjadi diberkati. Apakah dia seorang pemimpin gereja, pemimpin organisasi atau lembaga, dan ataupun pemimpin Negara. Tentu saja artinya, ini tidak dibatasi oleh pembentukan diri sebagai pemimpin yang karena dari lahirnya, oleh karunia yang diberikan Tuhan, tetapi juga adalah dari belajar untuk berbenah atas panggilan Tuhan untuk posisi sebagai pemimpin. Dan sudah tentu meskipun karunia untuk memimpin itu adalah panggilan unuk semua orang, tetapi hanya orang tertentulah yang Tuhan mau pakai untuk menjadi berkat kepada banyak orang, Mat. 22: 17.[42]
Kepemimpinan yang berhasil, adalah seorang pemimpin yang selalu berbenah diri dalam kuasa kepemimpinannya yang memiliki karakter menetapkan sikap terhadap Tuhan, yaitu; taat dan setia dalam segala situasi, takut dan takluk kepadaNya, mengandalkan Tuhan, memuliakan Tuhan, dan mendahulukan Tuhan pada setiap yang dikerjakan dan diperintahkanya kepada orang yang dipimpin. Disamping itu perlu juga menetapkan sikap terhadap diri sendiri, yaitu;  mengenal diri, percaya diri, memiliki harga diri, keutuhan jati diri (integritas), mengetahui krisis dalam diri, perilaku proaktif positip memandang diri, mandiri, dan mampu mengembangkan sikap memandang segala sesuatu yang mengancam diri sebagai memiliki sisi positip dan akan pada akhirnya berakibat positip bagi diri. Juga menetapkan diri terhadap orang lain dengan berpantang menyerah, berupaya untuk mencari makna dan pengalaman sebagai pelajaran berharga di dalam hidup. Semakin maju lagi sebagai pemimpin, tetapkan dan benahi sikap dan masalah yang terjadi pada hidup, ATM (Ancaman-Tantangan-Masalah) dan THR (Tantangan, Hambatan dan Himpitan-Rintangan) sebagai suatu kisi krisis, menjadi positip yang membawa keuntungan, kepahitan akar masa lalu segera berbuah manis. Semuanya ini telah diberitahukan Firman Tuhan melalui orang-orang yang disebut aktor-aktor Allah,orang biasa menjadi luar biasa. Benahilah dan tetapkan sikap akan pekerjaan sebagai seorang pemimpin terhadap pekerjaan pemberian Tuhan.[43]
Tugas pemimpin Kristen adalah menjalankan perintah Sang Gembala Agung dengan sifat dan karakter melalui dan dalam Firman Tuhan, sebagai wujud kedisplinan kepercayaan (=karunia) yang diberikan Yesus. Tugas yang dilakukakannya bukanlah pemberian manusia tetapi panggilan Allah, lih. Yeh. 34: 23.[44] Dengan demikian keberhasilan itu tidak terletak pada dan  oleh usaha, serta upaya pribadinya sendiri seorang pemimpin Kristen, organisasinya, komunitas atau lembaganya, orang yang bekerja dalam lingkup kepemimpinannya, tetapi oleh Kristus yang oleh hasil kinerjanya mencapai tujuan Allah dipermuliakan.[45]
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

Berita

Popular Posts

Comments

Silahkan tinggalkan pesan, kritik, saran dan komentar dari anda yang sangat saya harapkan.
 
Design by B.M.Kilungga.Tabuni Published by Heart of Papua