AddThis Smart Layers

Jumat, 01 November 2013

Integritas seorang pemimpin Kristen



Integritas seorang pemimpin Kristen


Oleh
Ev. Matius Sobolim, S. Th

Ev. Matius Sobolim, S.Th
Pada masa kini banyak pemimpin yang jatuh. Entah karena penggelapan uang, penyalahgunaan kekuasaan atau karena perselingkuhan dll. Hal demikian terjadi karena integritas diri sudah tidak dianggap penting lagi. John Maxwell di dalam buku “Menjadi Orang Yang Berpengaruh” mengatakan “Tampaknya banyak orang memandang integritas sebagai ide yang sudah ketinggalan zaman, sesuatu yang boleh dibuang atau tidak lagi berlaku di dunia yang berpacu cepat ini” (Harvest Publication House, hal. 19). Tidak aneh sekarang ini ada orang yang melakukan korupsi dan tidak merasa bersalah, biasa-biasa saja. 


Bagaimana dengan kepemimpinan Kristen? Apakah integritas menjadi sebuah kebutuhan ataukah sudah dianggap usang? Tentu saja masih dibutuhkan. Integritas tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan di dalam kepemimpinan Kristen. Teladan yang diberikan Kristus Yesus selama Ia memimpin para murid-Nya menunjukkan adanya integritas yang sejati.


 Demikian juga Rasul Paulus, ia menunjuk siapa dirinya dengan jelas dan nyata; tidak ada yang ditutup-tutupi. Bahkan ia berani menyatakan :”Saudara-saudara, ikutilah teladanku dan perhatikanlah mereka, yang hidup sama seperti kami yang menjadi teladanmu” (Filipi 3:17). Pertanyaan bagi kita yang mengaku dan diakui sebagai pemimpin: “beranikah kita menyatakan seperti yang Paulus nyatakan ‘ikutilah teladanku’?” Mungkin kita berpikir keras dan menimbang-nimbang dengan hati-hati untuk menjawab pertanyaan ini. Bahkan mungkin saja muncul kekuatiran dan ketakutan di dalam hati kita, apakah kita pantas menjadi teladan bagi para pengikut kita?


Integritas sekali lagi menjadi kebutuhan dan bukan menjadi pilihan di dalam apa pun yang kita kerjakan. Maxwell menyatakan “Tujuh puluh satu persen dari mereka mengatakan bahwa integritas adalah kualitas yang paling dibutuhkan untuk berhasil dalam dunia bisnis” (Menjadi Orang..., 20). Bahkan menurutnya, integritas bagaikan pondasi yang kokoh dari sebuah bangunan ketika dihantam badai. Jika pondasinya kuat, maka sekuat apa pun badai datang, bangunan tetap kokoh. Tetapi jika pondasinya tidak kuat, ketika badai datang menghantam, bangunan pun menjadi runtuh (Menjadi Orang..., 20-21). Demikian pula dengan kepemimpinan. Jika integritas seorang pemimpin tidak kuat, maka kala badai tekanan datang, runtuhlah kepemimpinan yang sudah dibangun. Tetapi jika seorang pemimpin memiliki integritas, maka sekuat apa pun badai tekanan datang, ia tetap menjadi seorang pemimpin yang dapat diandalkan.

Sekarang, apa yang dimaksud dengan integritas? Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata integritas diterjemahkan “kebulatan, keutuhan atau kejujuran.” (W.J.S. Poerwadarminta, [Jakarta: Balai Pustaka, 1995] 384). Di dalam buku “Mengembangkan Kepemimpinan Di Dalam Diri Anda, Maxwell menyatakan bahwa integritas mematri apa yang kita katakan, kita pikirkan, dan yang kita lakukan ke dalam diri yang utuh. ([Jakarta: Binarupa Aksara, 1995] 38). Jika mulut kita berkata A, maka tindakan kita pun harus mencerminkana apa yang kita katakan. Jangan sampai kita mencerminkan dari sebuah gambaran tentang seorang bapak yang memarahi anaknya karena merokok sedangkan di tangannya ada rokok yang sedang mengepul. Integritas adalah satu kata satu perbuatan. Dalam buku Menjadi Orang yang Berpengaruh, Maxwell menegaskan bahwa “Integritas adalah komitmen diri pada karakter ketimbang keuntungan pribadi, pada orang ketimbang benda, pada pelayanan ketimbang kekuasaan, pada prinsip ketimbang kesenangan, pada pandangan jangka panjang ketimbang jangka pendek.” (21).


Mengapa integritas penting? Maxwell menyatakan bahwa integritas penting karena pertama, integritas membina kepercayaan. Seorang pemimpin yang berintegritas akan mendapatkan kepercayaan dari para pengikutnya. Kedua, integritas punya nilai pengaruh tinggi. Bukan apa yang kita katakan berpengaruh terhadap orang lain, tetapi apa yang kita lakukan lebih berpengaruh kepada orang lain. Selanjutnya, integritas memudahkan standar tinggi. Seorang pemimpin yang berintegritas dapat memikul tanggung jawab lebih daripada para pengikutnya. Keempat, integritas menghasilkan reputasi yang kuat, bukan hanya citra. Citra dapat membuat kita memanipulasi diri kita supaya kelihatan baik, tetapi integritas menyatakan diri kita yang sesungguhnya. Kelima, integritas berarti menghayatinya sendiri sebelum memimpin orang lain. Seorang pemimpin yang berintegritas lebih mementingkan proses daripada hasil. 


Keenam, integritas membantu seorang pemimpin dipercaya, bukan hanya pintar. Pemimpin yang berhasil tidak harus memerlukan kecakapan dan kepintaran yang luar biasa tetapi mengharuskan integritas di dalam hidupnya. Terakhir, integritas adalah prestasi yang dicapai dengan susah payah. Integritas mencerminkan disiplin diri, keyakinan batin, dan keputusan untuk jujur sepenuhnya dalam segala situasi di dalam kehidupan kita. (Mengembangkan Kepemimpinan.., 41-49).


Pertanyaannya adalah bagaimana kita dapat memiliki intergritas? Integritas bukanlah sesuatu yang dapat dengan mudah dibangun. Integritas membutuhkan usaha kita sepanjang hidup. Tidak bisa kita katakan, oke saya harus memiliki integritas dan dengan sekejap saja kita menjadi orang yang berintegritas. Kunci kita memiliki integritas adalah bagaimana kita memiliki hati yang jujur, tulus dan benar. Lalu bagaimana kita dapat memiliki hati yang jujur, tulus dan benar? Di dalam 1 Raja-raja 9:4-5, ketika Raja Salomo baru selesai mendirikan rumah TUHAN (Bait Allah) dan istana raja, TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berkata : “Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud, ayahmu, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.” Dari ayat-ayat ini kita dapat menemukan bahwa integritas dimiliki jika seseorang hidup dekat dengan Allah dan melakukan kehendak-Nya. Walaupun Daud pernah melakukan kesalahan, Daud tetaplah seorang pemimpin bangsa Israel yang terus dijadikan model bagi para penerusnya. Mengapa? Karena Daud hidup “dengan tulus hati dan dengan benar.” Bagaimana Daud dapat memiliki hati yang tulus hati dan dengan benar” (memiliki integritas)? Karena Daud hidup dekat dengan Tuhan. Karena Daud hidup dekat dengan Tuhan, maka ia menjadi seorang yang takut akan Tuhan. 


Dengan demikian, integritas tidak dapat dilepaskan dari spiritualitas seorang pemimpin. Ketika seorang pemimpin dekat dengan Tuhan, maka ia kecenderungannya memiliki integritas. Tetapi jika seorang pemimpin jauh dari Tuhan, maka kecenderungan hatinya dikuasai oleh kedagingan. Berkenaan dengan hal ini, Jerry Bridges menyatakan bahwa supaya kita kuat melawan godaan dan pencobaan sebagai seorang gembala (pemimpin), maka kita perlu minta Tuhan untuk membuat kita selalu dekat dengan Dia, untuk memberi kita hati yang mudah dibentuk. Jika kehidupan pikiran kita sudah mulai melenceng, atau jika kita mulai berdalih untuk membenarkan dosa, kita ingin Tuhan menegur dan membuat kita dekat pada-Nya. Karena jika kita tidak disiplin hidup dekat dengan Tuhan, maka hidup kita akan hancur seperti yang dikatakan oleh Bridges “Jika kita menyepelekan hal-hal kecil, hal-hal besar akan mengganyang kita—bahkan mungkin menghancurkan hidup kita yang sebenarnya bisa menjadi kesaksian sekaligus merusak hubungan kita dengan Tuhan.” (“Hati yang Senantiasa Tunduk kepada Allah” dalam buku Segarkan, Perbarui & Hidupkan Kembali [Jakarta: Fokus Pada Keluarga, 1999] 39).


Setelah kita memiliki hubungan yang baik dengan Tuhan, maka kita juga perlu mengembangkan kualitas integritas seperti yang diutarakan oleh Maxwell. Kualitas integritas tersebut adalah teladankan karakter yang konsisten, gunakan komunikasi yang jujur, hargai keterusterangan, teladankan kerendahan hati, perlihatkan dukungan kepada orang lain, penuhi janji anda, miliki sikap melayani dan doronglah partisipasi dua arah dengan orang yang anda pengaruhi. (Menjadi Orang, 28-29). Kualitas integritas ini biarlah menjadi buah-buah yang nyata dari kehidupan kita sebagai pemimpin yang dekat dengan Tuhan seperti penulis Injil Lukas katakan “Karena tidak ada pohon yang baik yang menghasilkan buah yang tidak baik, dan juga tidak ada pohon yang tidak baik yang menghasilkan buah yang baik. Sebab setiap pohon dikenal pada buahnya. Karena dari semak duri orang tidak memetik buah ara dan dari duri-duri tidak memetik buah anggur. 


Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya” (Lukas 4:43-45). Karena itu, mari kita miliki integritas: di mana pun kita berada, bersama dengan siapa pun kita atau dalam situasi apa pun yang kita alami, mari hiduplah dengan integritas, tetap konsisten dan hidup berdasarkan prinsip-prinsip Firman Tuhan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Pages

Ev. Matius Sobolim, S.Th . Diberdayakan oleh Blogger.
"Terimakasih atas kunjungan anda. Silahkan tinggalkan pesan, kritik, saran dan komentar dari anda yang sangat saya harapkan. By Ev. Matius Sobolim,S.Th